RSS

Suamiku, Jangan Ajari Aku Menjadi Pencuri

16 May

Kedamaian keluarga, adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Hal ini akan terjadi, salah satunya ketika sang suami yang bertindak sebagai pemimpin pandai menempatkan dirinya sebagai seorang pemimpin dan bukan sebagai diktator bagi ` rakyatnya ` dirumah. Sang suami sebagai ujung tombak pencarian nafkah bagi keberlangsungan kehidupan istri dan anak- anaknya tentu saja memegang peranan yang sangat fital. dan tidak kalah pentingnya dari semua itu adalah, cara suami menyikapi pemberian rezeki tersebut untuk keluarganya.

Kedermawanan suami dalam kelegaan atau kesempitan rezeki yang dikaruniakan Allah, tentunya akan menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga.Ketika dalam kelimpahan dia dengan rela hati membagikannya kepada anak- anaknya dan lebih merasa bahagia saat mereka bahagia, adalah sebuah sikap yang sangat melegakan tentunya bagi semua anggota keluarga.

Namun sebaliknya, ketika dalam kelimpahan dia hanya bersahabat dengan ego dan keinginannya sendiri serta mengabaikan kebutuhan keluarganya, maka hal ini tentu saja akan membawa seluruh keluarga kepada keadaan yang menyedihkan. Bayangkan saja ketika seorang istri harus rela menjadi pencuri dirumahnya sendiri, mencuri yang seharusnya menjadi miliknya sendiri, dari orang yang dia abdikan hidupnya dengan ikhlas dan ringan hati, namun nyata- nyata tidak memberikan haknya. MasyaAllah… bahkan uang yang dicurinya bukanlah untuk kesenangan sang istri melainkan untuk memenuhi perut anak- anaknya yang lapar.Lalu…dimanakah letak keteladanan suami sebagai ayah sekaligus pemimpin keluarga?

Pernahkan anda sejenak membayangkan ketika anda tidak tahu untuk apa dan untuk siapa anda bekerja. Ketika kekayaan dan kelimpahan rezeki anda sudah ditangan, namun setelah habis dibelanjakan, kebahagiaan dan kepuasan anda pun akan selesai sampai disitu. Saja. Lahiriah anda akan berkata puas, namun batin anda akan tetap merasa kosong karena yang anda rasakan adalah tetap…sendiri. Maka, sebenarnyalah kebahagiaan itu adalah dari istri dan anak- anak anda. Merekalah harta yang sesungguhnya yang anda miliki, dan tidak akan pernah tergantikan dan atau terbeli dengan apapun. Kedermawanan anda terhadap rezeki dan materi yang anda miliki itulah yang akhirnya kembali membahagiakan anda

Subhanallah, ternyata memberi menumbuhkan keajaiban bagi sang pemberi dan penerimanya.Ketika anda sampai dirumah, istrilah yang menyambut dan menyiapkan kebutuhan anda. Anak- anak memberikan keceriaan kepada anda sehingga mengalihkan anda sejenak dari kepenatan dunia kerja dan mengajak berfantasi dalam keluguan dunia mereka. Dan kesemua itu tentu saja lebih berharga dari segala materi yang anda kejar dan kumpulkan dari pagi sampai sore dan dari sore sampai ke pagi lagi.

Apakah anda masih ingat satu hal bahwa harta anda tidak menemani anda saat dikubur nanti. Namun kebahagiaan dan kebanggan anak- anak anda atas figur seorang bapak mereka akan selalu terkenang. Anak- anak anda dengan suka rela dan ikhlas hati mendoakan anda supaya diampuni dan ditempatkan ditempat mulia disisi Allah, dan… itulah yang akan abadi untuk anda. Ketika seorang suami mengikhlaskan bagian rezeki yang diperjuangkannya untuk keluarga, maka saksikanlah bahwa kebanggan sebagai seorang figur pahlawan keluarga akan selalu disematkan untuk anda.Walaupun anda masih atau telah tiada di dunia ini.

Pencerminan kualitas akhlak seorang istri juga sejatinya sedikit banyak mencerminkan sang suami. karena setiap hari, dengan dialah anda setiap harinya bergaul dan menghabiskan usia. Karena setiap harinya, sang suami adalah pendidik bagi para istrinya. Maka, jangan biarkan istri anda menjadi pencuri dari harta anda sendiri. Pergaulilah dengan baik, seseorang yang telah mengikhlaskan dirinya dan mengesampingkan kepentingannya hanya untuk mengabdi, melahirkan dan merawat anak- anda tersebut. Tidak menjadi masalah besar atau kecilnya jumlah rezeki yang anda berikan kepada keluarga anda, karena sejatinya bagi mereka, kedermawanan dan keluasan hati anda adalah lebih berharga dari pada semua itu.

(Syahidah)

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2011 in Akhlaq, Islam, Muslimah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: